Belasan Penyerang Suporter Persijap Jepara Ditangkap Polisi

Semarang (ANTARA News) - Sekitar 16 orang yang melakukan penyerangan terhadap rombongan suporter Persijap Jepara ditangkap polisi."Dari keenam belas tersangka yang ditangkap tersebut, salah satunya menjadi otak penyerangan," kata Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Alex Bambang Riatmodjo di Mapolwiltabes Semarang, Sabtu malam.

Ia menjelaskan, tersangka yang menjadi otak penyerangan tersebut bernama Edi Purnomo alias Kirun, warga Jalan Purwoyoso, Kelurahan Purwoyoso, Kecamatan Ngalian, Semarang.

"Tersangka diketahui sebagai koordinator lapangan suporter PSIS Semarang yang dikenal dengan sebutan Panser Biru," ujar Kapolda didampingi Kapolwiltabes Semarang Kombes Pol Edward Syah Pernong.

Menurut Kapolda, pihak kepolisian akan terus mengembangkan penyelidikan terhadap tersangka yang telah ditangkap serta melakukan pengejaran terhadap sejumlah pelaku penyerangan yang belum ditangkap.

"Saya harap para suporter Panser Biru yang ikut serta melakukan penyerangan terhadap rombongan suporter Persijap Jepara yang saat ini bersembunyi agar segera menyerahkan diri kepada polisi karena akan tetap akan kami kejar," katanya.

Seperti telah diketahui bersama, kata dia, para pelaku tindak kejahatan akan ditindak tegas sesuai dengan hukum yang berlaku dan hasil penyelidikan lebih lanjut mengenai kasus penyerangan ini akan disampaikan pada masyarakat umum melalui berbagai media massa.

"Hal tersebut dimaksudkan agar seluruh masyarakat pecinta sepak bola dalam mendukung kesebelasan kesayangannya berlaku tertib dan tidak anarkis," ujarnya.

Kapolda menjelaskan, berdasarkan hasil penyelidikan sementara, penyerangan terhadap rombongan suporter Persijap Jepara ini karena motif balas dendam dan sudah direncanakan beberapa hari sebelumnya.

"Dari keterangan orang yang menjadi otak penyerangan, mereka melakukan penyerangan ini karena motif dendam terhadap suporter Persijap Jepara yang pernah menyerang suporter PSIS Semarang pada tahun 2005 silam," katanya.

Dalam kesempatan tersebut Kapolda juga mengimbau kepada pengurus klub-klub sepak bola yang ada di Jawa Tengah agar selalu berkoordinasi dengan Kapolres setempat jika ada pergerakan suporter yang memberikan dukungan terhadap kesebelasannya saat bermain di kandang lawan.

"Kapolres yang bersangkutan kemudian akan berkoordinasi dengan kapolres-kapolres yang wilayahnya dilewati rombongan suporter sehingga dapat dilakukan pengawalan sampai ke tempat tujuan," kata Kapolda.

Tersangka Kirun saat dimintai keterangan sejumlah wartawan di hadapan Kapolda, mengaku menyesal dengan penyerangan rombongan suporter Persijap Jepara yang disertai perusakan tersebut.

"Saya tidak mengira akan berakhir seperti ini, sebelumnya kami berencana hanya akan memberi pelajaran rombongan Persijap Jepara dengan cara melempari batu kearah bis yang mengangkut mereka," katanya.

Dia menyebutkan, cara mengetahui jadwal keberangkatan rombongan suporter dari Jepara menuju Jakarta adalah dengan menyuruh salah seorang anggota Panser Biru untuk berpura-pura menjadi suporter Persijap.

"Dari itulah dapat diketahui jadwal keberangkatan suporter Persijap Jepara serta bis yang digunakan mengangkut mereka," ujar Kirun.

Sementara itu, salah seorang Persijap Jepara yang juga berada di Mapolwiltabes Semarang, Wahid mengharapkan agar semua pelaku penyerangan ditindak tegas dan dijatuhi hukuman seberat-beratnya.

Sebelumnya, pada Jumat (29/1) malam pukul 22.30 WIB, tiga bis yang mengangkut rombongan suporter Persijap Jepara menuju ke Jakarta diserang ratusan orang tak dikenal dengan cara melempari batu berukuran besar saat melintas di Jalan Siliwangi Semarang.

Akibat penyerangan tersebut, puluhan suporter menderita luka-luka cukup parah terutama pada bagian kepala sehingga harus dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tugurejo Semarang untuk mendapat perawatan.

BI Anjurkan Semua Bank Sweeping Gerai ATM

Bank Indonesia (BI) Banda Aceh menganjurkan kepada seluruh pimpinan bank di wilayah tugasnya untuk segera melakukan sweeping (pembersihan) terhadap semua gerai atau bilik maupun mesin anjungan tunai mandiri (ATM) milik masing-masing bank. Sweeping itu dimaksudkan untuk menemukan peranti atau alat-alat tambahan (skimming) yang semestinya tidak boleh ada di gerai atau mulut mesin ATM, demi mencegah terjadinya pencurian uang nasabah melalui ATM seperti yang terjadi di Bali baru-baru ini.

Hal itu diungkapkan Pemimpin BI Banda Aceh, Mahdi Muhammad, saat berdialog dalam acara silaturahmi dengan unsur pimpinan Harian Serambi Indonesia di Newsroom Serambi, Kamis (21/1) siang. Mahdi dan rombongan disambut Pemimpin Umum Serambi H Sjamsul Kahar, Pemimpin Perusahaan Mohd Din, Redaktur Pelaksana Yarmen Dinamika, Manajer Iklan Lailun Kamal, serta sejumlah redaktur.

Dalam kesempatan itu, Mahdi juga menyarankan kepada nasabah bank di Aceh agar segera mengganti nomor personal identification number (PIN) kartu ATM-nya demi menghindari kasus pembobolan rekening seperti yang menimpa sejumlah nasabah bank di Bali dan Jakarta.  Menjawab Serambi, Mahdi mengatakan sampai saat ini BI Banda Aceh belum menerima laporan dari perbankan di wilayah tugasnya tentang adanya pembobolan rekening nasabah melalui ATM yang PIN-nya sudah dipindai (di-scan) oleh kelompok pembobol bank.

Namun, kemungkinan tersebut bisa saja terjadi. Terutama terhadap nasabah-nasabah yang dalam dua tahun terakhir pernah berkunjung dan melakukan transaksi melalui ATM di Bali atau Jakarta.  Sebagaimana diketahui, kasus pembobolan rekening melalui anjungan tunai mandiri (ATM) akhir-akhir ini marak diberitakan. Jumlah nasabah yang melapor terus bertambah dan ternyata seperti dilansir Serambi, pembobolan tersebut tidak hanya menimpa nasabah bank BCA, tetapi juga beberapa bank lain seperti BRI, Permata Bank, dan BNI. Pembobolan juga tidak hanya terjadi di Bali, tetapi juga meluas ke daerah lain seperti Jakarta.

“Modusnya adalah dengan memasang kamera tersembunyi untuk mengintip PIN. Artinya, pemantauan ini memang sudah lama dilakukan, sehingga tidak menutup kemungkinan ada nasabah dari Aceh yang sempat terpantau saat bertransaksi melalui ATM di Bali atau Jakarta,” tambah Deputi Pemimpin BI Banda Aceh Bidang Ekonomi Moneter, Joni Marsius Usman yang datang ke Serambi bersama atasannya, Mahdi Muhammad.

Menurutnya, untuk membobol rekening nasabah melalui ATM, yang perlu diketahui pelaku hanyalah PIN atau nomor identifikasi pribadi sang nasabah. Sedangkan kartu ATM-nya, meski yang aslinya tetap berada di dompet nasabah, bisa dikloning atau digandakan oleh sindikat pembobol.  Diakuinya, PIN merupakan nomor yang bersifat sangat rahasia dan hanya diketahui oleh nasabah sendiri. Pihak bank bahkan tidak bisa mengetahui PIN seorang nasabah karena dicetak secara acak oleh mesin dan diserahkan kepada nasabah dalam amplop tertutup yang tidak tembus pandang. Nomor PIN awal itu pun langsung diperintahkan untuk diubah demi mempersulit pihak lain melacaknya.

“Nah sekarang, setelah kejadian di Bali itu, kami sarankan kepada nasabah agar selalu mengganti PIN-nya. Jangan PIN itu digunakan sampai bertahun-tahun, tapi gantilah secara berkala,” saran Joni.  Terkait teknologi perbankan, Pimpinan BI Banda Aceh, Mahdi Muhammad menerangkan bahwa teknologi sebenarnya sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam pelayanan bank. Di samping itu, BI, katanya lagi, juga sering melakukan audit terhadap teknologi yang digunakan bank.

“Namun demikian, secanggih-canggihnya teknologi, pasti tetap ada celahnya dan inilah yang perlu terus ditutupi, karena bisa saja disalahgunakan,” ucap Mahdi. Deputi Pemimpin BI Banda Aceh Bidang SPMI dan Perbankan, Dani Surya Sinaga menambahkan bahwa BI Banda Aceh sudah menghubungi seluruh perbankan untuk melakukan sweeping di mesin-mesin ATM yang ada, sebagai respons untuk menghindari terjadinya pembobolan rekening seperti terjadi di Bali dan Jakarta.

Bahas ekonomi Aceh
Menanggapi pertanyaan Serambi, dalam pertemuan singkat itu juga disinggung mengenai kondisi perekonomian Aceh. Di antaranya menyangkut laporan Bank Dunia akhir Juli 2009 tentang investasi Aceh yang masih terkendala faktor keamanan (pungutan liar) dan kelistrikan. Joni menerangkan, Bank Dunia sebenarnya hanya menyimpulkan hal tersebut dari hasil survei yang dilakukan terhadap para pelaku usaha di Aceh. Jawaban pelaku usaha tentang hal-hal yang masih menghambat iklim investasi adalah dua hal tersebut, yakni kemananan dan kelistrikan.

“Jadi sampai saat ini, dua hal ini masih tetap menjadi kendala utama sebelum kita bisa mendatangkan investor untuk membuktikan bahwa Aceh telah benar-benar aman,” ucap Joni. Peran perbankan sendiri dalam menopang perekonomian Aceh lewat pembiayaan yang dikucurkan, dinilainya sudah lebih baik meski belum begitu berkualitas.

Mahdi Muhammad juga menyebutkan, rasio kredit yang dikucurkan saat ini di Aceh sudah mencapai sekitar 60 persen dari total dana yang dihimpun perbankan. Jauh meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya yang hanya berkisar 40 persen. “Kalau dari sisi pembiayaan sudah cukup baik. Tetapi harus kita akui, kredit tersebut belum berkualitas karena sebagian besarnya merupakan kredit konsumtif,” ujarnya.

Oleh karena itu, untuk mengerem laju kredit konsumtif, pihaknya telah membuat komitmen dengan seluruh perbankan agar membatasi rasio pemberian kredit: tak boleh lebih dari 40% gaji. Diharapkan dengan pembatasan ini, kredit konsumtif dapat beralih ke kredit modal kerja. “Kita juga mengimbau bank-bank yang baru dan akan masuk ke Aceh untuk memberikan pembiayaan ke sektor-sektor produktif, misalnya sektor perikanan,” tambah Dani Surya Sinaga.

Soal inflasi Aceh, itu pun diakui masih tinggi. Joni Marsius Usman menyebutkan, inflasi Aceh cenderung selalu berada 1 hingga 1,5 persen di atas inflasi nasional. Salah satu penyebabnya, karena kebutuhan barang di provinsi ini sangat bergantung ke Sumatera Utara, ditambah lagi posisi Aceh yang berada di ujung paling barat Indonesia sehingga menyebabkan cost perjalanan/angkutan menjadi tinggi.

Tabunganku
Dalam kesempatan itu Mahdi Muhammad juga menginformasikan bahwa pada tanggal 20 Februari 2010 akan diluncurkan produk tabungan yang dinamakan Tabunganku. Produk ini diluncurkan secara serentak di seluruh Indonesia dengan menyertakan seluruh bank. “Saya sudah berkomunikasi dengan bank-bank nasional dan BPR di Aceh. Mereka sudah menyatakan komitmennya untuk ikut,” kata Mahdi.

Tabunganku ini, menurut Mahdi, hampir mirip dengan produk tabungan sebelumnya yang disebut Tabungan Berjangka Nasional (Tabanas). Tujuannya adalah untuk menggalakkan minat masyarakat untuk menabung di bank. Buku tabungan dan kartu ATM-nya pun dibuat sama untuk semua bank di Indonesia.

“Tabungan ini bebas biaya administrasi. Ini khusus untuk tabungan, tidak bisa digunakan untuk transaksi. Setoran berapa saja boleh, apakah Rp 2.000 atau Rp 3.000 tetap diterima. Fungsi tabungan ini untuk program jangka panjang,” jelas Mahdi. Dengan diluncurkan produk tabungan ini, jumlah masyarakat penabung di Aceh diharapkan akan bertambah. Saat ini, dari 3 juta penduduk Aceh yang berusia di atas 15 tahun, sebanyak 1,7 jutanya telah memiliki rekening tabungan di bank.
Kalau ada kesalahan pada blog ini, tinggalkan pesan anda di blog ini supaya saya mengetahui