1.734 Pelajar SMP tak Bisa Ditampung

Peserta ujian nasional (UN) tingkat SMP/MTS sederajat tahun 2010 di lingkungan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) kota, sebanyak 25.158 orang. Sebaliknya, tingkat SMA/SMK/MAN sederajat ada 23.424 peserta.
      Nah, jika dilihat dari jumlah tersebut ada ketimpangan antara lulusan UN SMP sederajat dengan daya tampung SMA sederajat. “Kalau daya tampung SMA hanya 23.424, sementara peserta UN SMP yang lulus misal 25.158 berarti ada kelebihan jumlah siswa 1.734. Ke mana mereka ditampung?” tegas Hatta Wazol, kadisdikpora Kota Palembang, kemarin.
      Menurut Hatta, pihaknya berupaya agar seluruh lulusan SMP/MTS tahun ini bisa masuk ke  SMA/SMK/MAN sederajat yang di Kota Palembang. "SMA Negeri 22 yang sudah kita bangun di Alang-Alang Lebar (AAL) tahun ini sudah bisa menerima sekitar 240 siswa untuk 6 kelas," tukasnya.
    Hal itu berarti masih ada sisa sekitar 1.494 lulusan SMP/MTs yang masih dipikirkan bagaimana agar bisa tertampung. "Kita coba usulkan ke APBN untuk membuat sekolah besar di SMK Negeri 2 Palembang. Kita akan lakukan perluasan sekolah di sana," tukas Hatta. Sekolah ini menjadi lirikan karena memiliki lahan seluas 4,23 hektare, tapi sayangnya lahan hanya terpakai sebagian untuk bangunan sekolah.
    "Peminat SMKN 2 sangat tinggi, mencapai 2.500 lulusan per tahun, sementara yang diterima hanya 400 siswa per tahun," ujarnya. Disdikpora juga bakal memperbesar bangunan dan melengkapi sarana prasarana SMKN 2 jika usulan pembangunan dan rehab sekolah Rp69,7 miliar disetujui APBN. Dengan begitu, kapasitas siswa yang tadinya hanya bisa menampung 1.500 diusahakan menjadi 5 ribu siswa.
    "Kita butuh sekolah besar serta memiliki sarana prasarana yang lengkap. Jelas ini lebih baik dibandingkan dengan sekolah-sekolah kecil," ujarnya. Misalnya satu sekolah bisa memuat 1.500-1.700 siswa mulai dari kelas 1-3. Nah, kalau sekolah besar mungkin akan memuat 5 ribu siswa. Lanjutnya, dari segi biaya dan pegawai pun akan lebih efisien. “Harusnya membutuhkan 3 kepala sekolah menjadi satu saja untuk sekolah besar.”
    Diakui Hatta, untuk mencari lahan bangun sekolah baru sekarang sudah sangat sulit. Oleh sebab itu, pihaknya mencoba mengoptimalkan sekolah yang dimiliki dengan melakukan perluasan.
    Sementara itu, Kasubdin SMP/SM Disdik Kota Palembang, Drs H Riza Fahlevi MM mengakui memang benar SMA/MA/SMK yang ada tidak akan bisa menampung seluruh lulusan SMP. Hanya, itu bukan menjadi ancaman putus sekolah.
     "Mungkin saja ada lulusan SMP/MTS yang memilih sekolah di luar kota, atau ikut sekolah berbasis keahlian seperti sekolah pariwisata, migas, bangunan, dan lain sebagainya," ujarnya. Alternatif lain, melanjutkan ke sekolah yang dilaksanakan oleh BUMN/BUMD atau swasta seperti sekolah Telkom.
    Selain itu angka tuntas wajar 9 tahun Kota Palembang pun sudah memadai. Khusus SD sebesar 106 persen, SMP 103 persen, dan SMA 95,85 persen. "Artinya, seluruh anak kita sudah tamat SD-SMP, tapi untuk SMA masih tersisa 4 persen yang belum menamatkan SMA bukan berarti dapat dikatakan putus sekolah," ujarnya.

Comments (0)

Kalau ada kesalahan pada blog ini, tinggalkan pesan anda di blog ini supaya saya mengetahui