Realitas di lapangan menunjukkan bahwa lima tahun belakangan ini situasi kota Medan telah berbeda dari suasana di masa kampanye 2005-2010.
Menjelang kampanye pemilihan Walikota 2010-2015, para kandidat seharusnya mempertimbangkan pemanfaatan internet sebagai media kampanye.
Selain berdampak positif bagi calon, sekaligus mendukung kampanye penyuluhan pemanfaatan internet bagi masyarakat. Lagi pula, kampanye melalui internet akan meyakinkan masyarakat bahwa mereka akan bisa mengevaluasi kandidat lima tahun ke depan.
Artikel ini adalah pengalaman unik serta angan-angan saya seandainya saya menjadi kandidat walikota Medan. Semoga menjadi inspirasi bagi para kandidat.
***
Medan adalah kota pendidikan, pusat pemerintahan, telekomunikasi dan perdagangan terbesar di Sumatera yang pola komunikasinya secara pesat telah berubah dengan kemajuan teknologi internet .
Kesan ini saya peroleh ketika suatu hari saya menjelajah sepintas sebagian kota Medan dengan menumpang angkot Nasional 17 dari Simalingkar-Sambu.
Melintasi pusat-pusat ekonomi, mulai dari pajak Simalingkar—yang dipadati penjual tradisional, pusat perbelanjaan modern Carrefour di bekas asrama Brimob, Pasar V Padang Bulan, melintasi ruko-ruko yang sudah direnovasi menjadi tempat usaha, melintasi Plaza dan pusat perbelanjaan modern, hotel-hotel, perbankan, pusat pemerintahan dan kantor-kantor perusahaan besar.
Di Sumber, saya mengamati kampus terbesar di Sumatera Utara, Universitas Sumatera Utara, terbayang puluhan ribu mahasiswa dan ribuan dosen. Satu kampus saja sedemikian besar jumlahnya. Apalagi, ratusan perguruan tinggi di kota ini bertebar di seluruh pelosok kota. Mereka telah menggunakan internet sebagai alat komunikasi disamping telepon.
Pasti sebagian besar mereka adalah penduduk kota Medan. Belum lagi kalau melihat jumlah anak SMA yang jumlahnya jauh lebih besar. Di beberapa tempat, saya melewati sekolah-sekolah baru bertaraf internasional.
Memasuki pusat kota, saya menyaksikan bank-bank asing seperti Standard Chartered Bank (bank asing pertama di Medan), dan bank-bank asing lainnya. Hotel-hotel asing baru seperti Swiss Bell, JW Marriot, dan beberapa kota lainnya adalah bukti betapa Medan sudah berinteraksi besar terhadap dunia global. Selain menggunakan bahasa asing, para pegawai di sana pasti sudah memiliki kemampuan akses kepada internet.
Saya juga terbayang para pegawai pemerintah saat melintasi kantor gubernur yang megah dan berlantai sepuluh ini. Kantor ini adalah pelayanan masyarakat Sumatera Utara. Puluhan ribu pegawai bekerja di kantor itu, serta di puluhan kantor-kantor dinas yang terdapat di kota ini.
Selain itu, Medan adalah kota antara dari pemerintah Pusat ke daerah-daerah. Berbagai kantor yang menjadi pusat pelayanan daerah ini ke Pusat berloasi di kota Medan. Dengan program e-government yang sudah diterapkan selama ini, maka sebagian pegawai juga sudah berbudaya internet
Selain itu, kota Medan adalah kota usaha terbesar di Sumatera. Mulai dari usaha kecil sampai perusahaan-perusahaan raksasa. Saya melihat berbagai perusahaan seperti Sinar Mas Group, Raja Garuda Mas, dan berbagai perusahaan besar lainnya berkantor di gedung-gedung besar dan mewah. Saya melintasi gedung BII, Gedung Kembar di Jalan MT Haryono.
Dari jauh, saya menyaksikan dua kantor operator telekomunikasi, ternyata Medan adalah pusat telekomunikasi di Sumatra. Ada gedung megah Telkom Divre-1 Sumatra dan ke arah lebih jauh lagi, sayup-sayup saya juga menyaksikan gedung Indosat di Jalan Perintis Kemerdekaan. Belum lagi berbagai kantor pemasaran operator mobile seperti Exelcomido, Indosat, Telkomsel, dan lain-lain. Puluhan ribu orang bekerja di sektor ini.
Fasilitas warnet yang bertebaran saya saksikan di sepanjang jalan yang saya lalui, terutama di sekitar Padang Bulan dekat lingkungan kampus. Satu bukti, bahwa meski tidak memiliki fasilitas internet di rumah, telah menjadikannya sebagai salah satu media komunikasi.
Untuk menjangkau masyarakat pemilih di atas, saya masih menyaksikan kampanye tradisional di sepanjang jalan jalan yang saya lalui. Saya menyaksikan spanduk, baliho dan segala bentuk media pengenalan dari para calon di berbagai jalan-jalan strategis. Foto-foto calon dengan senyum atau mimik serius menyapa para pengendara atau penumpang yang hilir mudik. Berjejer ratusan meter papan bunga di depan sebuah hotel berbintang mengucapkan selamat atas peluncuran buku, perkawinan dan hajatan lain.
Di beberapa potongan jalan angkot agak lambat karena ada pesta-pesta yang dipagari dengan papan bunga. Memang dalam suasana begini para kandidat rajin memajang papan bunga yang lebar-lebar dengan tulisan nama Calon yang menonjol. Pesta menjadi ajang kampanye.
Para kandidat menghamburkan uangnya ke toko bunga, kadang lupa membantu pemilik hajatan. Amplopnya kecil, papan buanganya besar. Tapi, anehnya, pemilik pesta kadang merasa bangga kalau pestanya didatangani seorang kandidat walikota. Tidak ada salahnya memang.
Di tempat lain, saya menyaksikan pembagian sembako dan barang kebutuhan penduduk miskin oleh kandidat tertentu.
Biarlah itu juga berjalan sebagaimana adanya, dan itu semua baik untuk rakyat. Tapi apakah mendidik, itu soal lain. Saya ingin kalau saya menjadi kandidat walikota akan melakukan kampanye melengkapi atau bahkan mengurangi kegiatan seperti kegiatan di atas.
***
Tiba di rumah, saya merenung. Seandainya saya menjadi seorang kandidat Walikota, kampanye secara tradisional seperti cara-cara yang sudah disebut di atas tidak cukup mengakomodasi pesatnya perkembangan kebutuhan masyarakat.
Mengapa? Selain pengamatan saya di lapangan yang saya saksikan di atas, saya memperoleh data dari berbagai sumber. Pertumbuhan pemakai internet di Indonesia meningkat pesat. Pada akhir tahun lalu Budi Suranto, EGM Telkom Divre I mengungkapkan bahwa jumlah pengguna Internet di Indonesia akhir 2009 diperkirakan 40 juta jiwa. (Analisa 10 November 2009). Puluhan bahkan ratusan ribu pemilih potensial kota ini telah merubah pola komunikasi mereka. Jauh berbeda dengan lima tahun yang lalu.
Masyarakat sudah semakin banyak menggunakan internet, memiliki e-mail, menjadi anggota komunitas berbagai jejaring sosial (social networking) seperti Facebook, Frenster, Twitter, Tribe, Geek, Bebo dan lain lain. Bahkan sudah memiliki blog atau website. Puluhan mediaonline baik yang dimiliki surat kabar maupun di luar itu sudah bertabur di dunia maya ini. Mereka akan saya jadikan sebagai partner saya untuk melakukan kampanye.
Kini, di Indonesia pengguna facebook saja sudah mencapai 14.000.000 orang. Katakan dari jumlah itu, 2 persen saja pengguna Facebook berada di Medan, maka setidaknya saya bisa menjangkau 28 ribu orang pengguna facebook terdapat di kota ini. Mereka akan bisa mempengaruhi para pendukung saya yang lain secara multi efek.
Saya harus melengkapi kampanye melalui internet!
Saya akan membentuk para perencana kampanye yang memiliki kemampuan merumuskan salah satu visi saya, menjadikan kota Medan memasuki era globalisasi. Saya mengangkat ahli-ahli IT, penulis content, desainer serta beberapa tenaga survey yang dipimpin seorang campaign manager.
Tim sukses saya akan membangun komunikasi dengan kelompok-kelompok pengguna internet secara smart and frienly. Saya akan menghindari tim sukses yang hanya bisa bagi-bagi duit. Kampanye seperti ini menurut saya tidak mendidik.
Mereka saya bebankan untuk menyusun dan menyampaikan konsep kampanye, kegiatan kandidat, jadwal kampanye serta tugas yang berat: merespon reaksi masyarakat. Selain itu, mereka harus mampu mengefektifkan pengorganisasian pendukung, mengumpulkan dana, dan menyampaikan pesan (telling the campaign’s story).
Tim saya akan mengajak masyarakat membantu kampanye saya. Saya ingin di dalam tim saya terdapat ahli-ahli IT. Karena saya tidak mau "orang buta" memimpin orang "melek". Saya mau "orang melek" yang sudah berkecimpung di bidang ini, bisa digunakan membuka mata orang yang melek internet dan komputer menjadi lebih melek lagi dan mereka yang buta menjadi melek.
Saya akan membangun situs yang menekankan sikap yang lebih terbuka dari calon lain. Rakyat yang sudah melek internet, pendukung saya, akan ikut membangun konten kampanye dan bahkan membangun situs pendukung masing-masing. Saya akan berhubungan lebih banyak pendukung saya secara interaktif. Dengan demikian, saya akan bisa menjangkau sebagian besar lapisan masyarakat. Saya ingin tim saya paham tentang itu.
Mereka harus paham rencana pemerintah dalam rangka membuat rakyat melek komputer dan internet. Mereka harus tau program-progam digitalisasi yang dilakukan perusahaan-perusahaan telekomunikasi. Mereka harus orang-orang yang berpengalaman, bukan hanya bisa "cuap-cuap" atau pintar menyebar kartu nama dan memasang spanduk. Apalagi hanya membagi-bagi duit atau sembako.
Selain kampanye trasional yang mengusung program-program ekonomi saya, maka saya tidak bisa tidak saya harus menggunakan internet dan memasukkan visi pengembangan pengetahuan masyarakat tentang teknologi internet ini.
Saya akan melirik program-program operator telekomunikasi. Saya pernah membaca di media cetak bahwa saat ini Telkom Divisi Regional I Sumatera, sedang gencar mengembangkan masyarakat digital.
Banyak program dilakukan, mulai mendigitalkan perpustakaan daerah, mengembangkan taman digital di Medan, Binjai dan Langkat, Taman Budaya Digital di TBSU, membangun kawasan wisata digital, masjid digital, gereja digital, sekolah digital, sampai kampung digital. Saya akan mendorong para pengguna Taman Digital seperti Taman Digital Ahmad Yani, Medan Demikian juga program-program pemerintah lainnya, seperti e-government dan lain-lain. Saya akan mendukung program-program operator lain. Bahkan, saya akan menjadikan program ini terkait dengan program-program saya lima tahun ke depan.
Saya sadar bahwa semua program yang mereka lakukan itu adalah untuk mendorong pemahaman masyarakat terhadap internet semakin baik.
Saya akan memanfaatkan sifat Web 2.0 yang menekankan pada komunitas, menggelar ribuan acara dalam masa kampanye dan merekamnya ke dalam video oleh sebuah tim khusus. Saya akan mempostingnya ke dalam situs YouTube, My-Space, dan Facebook. Juga akan saya manfaatkan berbagai pesan kampanye melalui iPod. Ribuan video kampanye yang terupdate akan saya posting secara periodik.
Para pengakses internet setiap hari bisa menyaksikannya. Mereka bisa belajar dari situs-situs yang kuciptakan mengajar pengetahuan internet dan pemanfaatannya bagi kehidupan. Saya akan menggunakan media cetak menyebarluaskan pengetahuan itu untuk menjangkau mereka yang tidak terakses internet, dan mengundnag para wartawan secara sukarela memberitakannya secara luas kepada masyarakat.
Memberi rakyat pengetahuan yang bisa mengangkat harkat hidupnya, jauh lebih elegan dari pada sekedar kampanye janji-janji kosong disertai "penyuapan" terselubung dengan memberi bantua materi—yang akan habis dalam sekejap. Saya mau rakyat Medan hidup dengan modal pengetahuan dan menciptakan knowledge society (masyarakat yang hidup dari pengetahuan).
Saya akan tampil beda dengan kandidat lain yang masih kasak-kusuk dengan pola lama. Saya tidak mau bagi-bagi uang, karena bukan itu yang dibutuhkan masyarakat. Apalagi masyarakat Medan dengan kaum intelektual dan mahasiswanya yang begitu banyak. Mereka membutuhkan ilmu pengetahuan sebagai modal kehidupan. Bukan uang Rp 100,000 yang akan habis pada malam hari, atau esok harinya.
Satu hal yang saya mau tekankan, saya akan jadikan tema kampanye saya: "kalau anda mau hidup lebih baik, jangan tergiur dengan uang saya". Saya mengkampanyekan "cara hidup" yang lebih baik untuk meningkatkan "kualitas hidup" lebih baik.
Secara terbuka masyarakat akan dapat melihat profil, pikiran-pikiran saya, serta hal-hal yang saya tawarkan kepada pemilih lima tahun ke depan. Jadi saya bukan seorang walikota yang kampanye hanya melalui mulut, tetapi semua yang saya ucapkan tercatat dan bisa digunakan untuk mengevaluasi saya lima tahun ke depan.
Dari pengalaman orang terdahulu yang menggunakan internet dalam kampanye, saya sadar, bahwa kampanye melalui internet bukan kampanye mulus tanpa hambatan. Saya sudah belajar dari pengalaman Obama saat kampanye tahun lalu.
Secara efektif saya akan menangkal serangan kampanye "hitam" dengan membentuk situs khusus menantang kampanye hitam. Saya akan buat semacam Fight the Smears (Perangi Cela)nya Obama. . Saya tidak mau membalas kampanye hitam dengan kampanye hitam. Saya akan membalas mereka dengan konsep dan bukti yang saya tunjukkan dalam waktu singkat.
Dengan konsep tertulis yang bisa diakses di internet, maka masyarakat bisa mengevaluasi saya lima tahun ke depan. Kalau saya terpilih, maka tim saya akan membantu saya melanjutkannya di lapangan. Tidak seperti kandidat yang banyak saya kenal sebelum ini. Mereka hanya perlu tim sukses pada saat kampanye, setelah itu dilupakan. Tim saya akan siap menerima keluhan-keluhan dan jawaban atas permasalahan mereka!
Sayang, ini hanya angan-angan, karena saya bukan seorang kandidat Walikota.***

Comments (0)
Posting Komentar