Jalan utama di kawasan wisata Penelokan, Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, jebol sekitar satu meter dengan panjang sekitar tiga meter. Akibatnya, bus wisata ukuran besar yang lewat di jalur ini tidak bisa berpapasan.
Karena itu, terjadilah antrean panjang, terutama pada jam-jam sibuk antara pukul 11.00 hingga 15.00 Wita. Salah seorang pemandu wisata, Wayan Reta, 48, yang sering mengantar tamunya ke objek wisata Kintamani mengaku sempat antre kendaraan yang ditumpanginya lantaran titik jalan jebol itu. "Kemacetan sangat terasa pada jam-jam ramai kunjungan pada siang sampai sore hari," ujar Reta, Sabtu (20/2).
Itu tak terlepas karena objek wisata Kintamani lebih merupakan tempat wisata persinggahan wisatawan sambil menikmati keindahan panorama kaldera Gunung Batur. Belakangan ini, setiap hari, ratusan kendaraan wisata, termasuk bus, melintas di kawasan ini mengangkut ribuan wisatawan mancanegara maupun lokal.
Kalangan pelaku pariwisata di Kintamani meminta pemerintah segera memperbaiki marka jalan yang jebol itu. Bila tidak ditangani segera, dikhawatirkan membahayakan bagi pengguna jalan di samping bisa memperburuk citra objek wisata Kintamani.
"Lebih baik mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas daripada harus ada korban jiwa," ujar Reta. Dia mengingatkan berita kejadian kecelakaan lalu lintas di Kintamani tahun 1993 yang menewaskan sejumlah wisatawan asing dengan cepat menyebar ke berbagai negara.
Kepala Bagian Humas Kabupaten Bangli Ari Pulasari saat dikonfirmasi mengatakan tanggung jawab perbaikan jalan yang jebol di kawasan wisata Penelokan Kintamani itu itu adalah Pemerintah Provinsi Bali karena merupakan jalan provinsi. "Dinas PU (Pekerjaan Umum) Bangli sudah menyampaikan kejadian ini ke provinsi," ujar Ari Pulasari, Sabtu (20/2).
Karena itu, terjadilah antrean panjang, terutama pada jam-jam sibuk antara pukul 11.00 hingga 15.00 Wita. Salah seorang pemandu wisata, Wayan Reta, 48, yang sering mengantar tamunya ke objek wisata Kintamani mengaku sempat antre kendaraan yang ditumpanginya lantaran titik jalan jebol itu. "Kemacetan sangat terasa pada jam-jam ramai kunjungan pada siang sampai sore hari," ujar Reta, Sabtu (20/2).
Itu tak terlepas karena objek wisata Kintamani lebih merupakan tempat wisata persinggahan wisatawan sambil menikmati keindahan panorama kaldera Gunung Batur. Belakangan ini, setiap hari, ratusan kendaraan wisata, termasuk bus, melintas di kawasan ini mengangkut ribuan wisatawan mancanegara maupun lokal.
Kalangan pelaku pariwisata di Kintamani meminta pemerintah segera memperbaiki marka jalan yang jebol itu. Bila tidak ditangani segera, dikhawatirkan membahayakan bagi pengguna jalan di samping bisa memperburuk citra objek wisata Kintamani.
"Lebih baik mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas daripada harus ada korban jiwa," ujar Reta. Dia mengingatkan berita kejadian kecelakaan lalu lintas di Kintamani tahun 1993 yang menewaskan sejumlah wisatawan asing dengan cepat menyebar ke berbagai negara.
Kepala Bagian Humas Kabupaten Bangli Ari Pulasari saat dikonfirmasi mengatakan tanggung jawab perbaikan jalan yang jebol di kawasan wisata Penelokan Kintamani itu itu adalah Pemerintah Provinsi Bali karena merupakan jalan provinsi. "Dinas PU (Pekerjaan Umum) Bangli sudah menyampaikan kejadian ini ke provinsi," ujar Ari Pulasari, Sabtu (20/2).

Comments (0)
Posting Komentar